September

26

MPKMB 47

makasih kakak kakak MPKMB :)

aku seneng deh ikut MPKMB, ga nyesel lho..

banyak banget pengalaman yang aku dapet dari MPKMB kemaren selain lari lari, kejepit jepit pas aksi, sama ketiduran di GWW.. hehehe tapi keseluruhan acaranya menyenangkan kak :)

sampe sekarang aja  di kamar tetangga masih ada aja yang nyetel lagu theme song MPKMB 47 hehehe..

pokoknya bravo buat panitia MPKMB 47 😀

September

19

cerita inspirasi

“5 Kualitas Pensil”

Puspa Diva Nur Aqmarina (E14100062)

Saat itu Mama sedang asyik menulis. Tepat saat itu pula Belva bertanya, “Mama sedang menulis apa?”

Mendengar Belva bertanya, Mama berhenti menulis lalu berkata, “Nak, sebenarnya mama sedang menulis tentang dirimu. Mama sedang membuat tulisan tentang dirimu. Namun ada yang lebih penting dari isi tulisan Mama, yaitu pensil yang sedang Mama gunakan. Kelak Mama ingin kau dapat menjadi seperti pensil ini”

“Apa maksud Mama bahwa Belva harus dapat menjadi seperti sebuah pensil? Lagipula sepertinya pensil itu biasa saja, sama seperti pensil lainnya,” jawab Belva bingung.

Mama tersenyum bijak lalu menjawab, “Itu semua bergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Tahukah kanu, Belva, bahwa sebenarnya pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup.”

“Bisakah Mama menjelaskan lebih detail lagi padaku?” pinta Belva.

“Tentu saja Nak,” jawab Mama dengan penuh kasih

“Kualitas pertama, pensil dapat mengingatkanmu bahwa kamu bisa melakukan hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkahmu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya”.

“Kualitas kedua, dalam proses menulis, kita kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil yang kita pakai. Rautan itu pasti akan membuat pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, pensil itu akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga denganmu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.

“Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Karena perbaikan selalu membawa pada kebaikan dan dapat membawa kita ke jalan yang benar”.

“Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu. Setiap manusia selalu memiliki kelebihan dan kekurangan, oleh sebab itu anakku, kita harus mengetahui dimana letak kelebihan dan kekurangan kita”.

“Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda goresan. Seperti juga kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan. Janganlah kamu menggoreskan kesan yang buruk terhadap sekeliling lantaran sikapmu yang tidak menyenangkan dan membuat orang sekelilingmu tidak nyaman didekatmu”.

“Nah Belva, apakah kamu mengerti apa yang Mama sampaikan?”

“Mengerti Ma, Belva sangat bangga memiliki Ibu sehebat dan sebijak Mama.”

Dari cerita diatas dapat disimpulkan bahwa setiap kegiatan yang kita lakukan selalu memiliki makna tersendiri, walaupun kadang tidak terlihat langsung. Hal ini tergantung dari mana kita memaknai kehidupan itu sendiri.

Semoga bermanfaat bagi kita semua.

September

19

cerita inspirasi


Saya akan mencoba membagi cerita yang saya miliki kepada teman-teman sekalian. Semoga dari cerita ini dapat menginspirasi teman-teman.

Saya adalah anak pertama dari dua bersaudara. Saya memiliki seorang adik laki-laki berusia 10 tahun. Saya tinggal bersama orang tua saya. Saya memiliki ibu yang sangat perhatian pada saya dan juga ayah yang sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran dan agama.

Pernah sewaktu saya berusia 15 tahun, saya dan teman-teman saya pulang larut malam lantaran saya pergi ke Dufan. Saat itu memang saya terlalu asyik bermain bersama teman-teman saya sehingga saya pulang tidak tepat waktu karena saat itu kendaraan sangat padat. Alhasil saya sampai rumah pukul 23:00. Saya sangat takut sekali menginjakkan kaki di rumah karena telah terbayang wajah kedua orang tua saya yang akan marah besar pada saya. Saya juga takut sekali karena saya belum pernah pulang selarut itu.

Dengan mungumpulkan keberanian, saya pun mengetuk pintu rumah. Sekian lama tidak ada jawaban. Saat itu saya sempat berfikir bahwa saya akan tidur di luar, namun tak lama kemudian terdengar langkah kaki menuju pintu.

Pintu pun terbuka dan sudah ada mama menyambut dengan tatapan penuh marah, dan papa hanya diam mengikuti mama dari belakang. Setelah mengunci pintu, mama pun membuka suara dengan bertanya macam-macam dan mama juga sangat marah pada saya. Melihat hal itu, saya hanya bisa pasrah karena saya tahu memang ini salah saya, jadi percuma juga membela diri, jadi saya hanya diam mendengar amarah mama.

Setelah amarah mama mereda, barulah papa mulai buka suara. Dalam hati, saya sangat takut sekali lantaran papa memang orang yang jarang bicara. Dan memang terbukti, karena papa hanya menanyakan satu pertanyaan yakni, “Puspa, apakah kamu sudah solat di sela-sela kesibukanmu tadi?” Saya merasa sangat bersalah sekali karena saya memang belum solat. Akhirnya dengan jujur saya menggelengkan kepala saya. Pada saat itu juga saya didudukkan di ruang tv dan saya diberi satu nasihat yang sangat saya pegang hingga detik ini.

Papa dan mama menasehati saya, “Nak, Mama Papa bukan orang tua yang suka memaksa anak-anak Mama Papa, hanya satu hal yang perlu kamu ingat kemanapun kamu pergi, sejauh apapun kamu pergi,  dengan siapapun kamu pergi, dan sesibuk apapun dirimu, janganlah kamu lupakan kewajibanmu kepada sang ilahi. Janganlah kamu lupa untuk tunaikan solat lima waktu”

“Papa dan mama membebaskan kemanapun kamu melangkahkan kakimu, asalkan janganlah kamu melenceng dari ajaranNya. Karena ini hidupmu, Nak. Papa dan Mama hanya membimbing kamu tapi kamu jualah yang akan menentukan.” sambung papa.

“Papa tidak akan marah padamu, asalkan sekarang ambil air wudhu dan memohon ampunlah pada Allah karena kekhilafanmu, dan ingat jangan ulangi lagi hal ini.” Papa pun mengakhiri.

Mulai detik itu, saya selalu mengingat dan mencoba menerapkan nasihat mama papa. Saya berusaha melengkapi solat saya. Meskipun sangat susah namun memang sudah sepantasnya kita sebagai umat islam mencoba melengkapi perintah solat lima waktu dalam hidup kita.  Oleh karena itu, setiap kalian yang mengaku beragama islam, mulailah untuk melaksanakan solat lima waktu dalam kondisi apapun dan dimanapun.

Semoga bermanfaat bagi kita semua 😀

by: PUSPA DIVA NUR AQMARINA (E14100062)